Berkelana!

Aku akan pergi jauh teman, jauh sekali
melintasi benua yang hanya aku lihat dalam peta
memberanikan diri berkelana bersama Tuhan di sisi
carilah aku dalam doa jika tak ada kabar jua
semoga tak tersesatku di pengembaraan ini

Pendidikan Islam di Asia Tenggara

Studi Kasus : Kiprah Pondok Modern Darrussalam Gontor di Asia Tenggara

 

Implementasi sistem pendidikan Islam di berbagai negara tentunya berbeda-beda, negara berpenduduk mayoritas muslim dengan penduduk muslim sebagai minoritas memiliki corak serta sistem yang berbeda antara negara satu dengan negara lainnya. Pendidikan Islam mempunyai sejarah yang panjang. Pengertian luasnya, pendidikan Islam berkembang seiring munculnya Islam itu sendiri. Islam mengalami kemajuan yang signifikan, meskipun pada beberapa negara tertentu terjadi fluktuatif, bahkan ada juga yang hampir punah seperti di Spanyol. Penyebaran Islam terjadi dengan berbagai cara, diantaranya adalah orang-orang Islam pergi ke suatu daerah atau negara dengan tujuan dakwah. Selain itu, ada juga dengan berdagang sekaligus berdakwah dan mereka juga melakukan perkawinan. Azyumardi Azra (Azra, 2015).

(Rabasa) mendeskripsikan struktur pendidikan agama di Asia Selatan hingga Tenggara. Mayoritas negara-negara muslim memiliki sistem sekolah negeri yang multi agama. Di Indonesia sendiri setiap siswanya dikenalkan pada lima agama yang diakui oleh negara (Islam, Kristen Protestan, Kristen Katolik, Budha, dan Hindu) berhak atas pengajaran agama di dalam kurikulum sekolah (walaupun setiap sekolah memiliki peraturan minimum siswa yang diperlukan untuk membuka kelas agama tertentu). Di Malaysia tidak seperti Indonesia, Islam menjadi agama resmi negara dan satu-satunya instruksi agama yang diberikan sekolah umum adalah ajaran Islam, akan tetapi tidak mewajibkan siswa non-muslim untuk belajar agama Islam. Filipina tidak ada agama negara, konstitusi mereka memisahkan antara ajaran gereja dan negara. Meskipun demekian, pemerintah Filipina membuat kurikulum yang mengajarkan nilai-nilai moral gereja pada jam sekolah. Selain terdapat di sekolah negeri, pendidikan Islam juga diselenggarakan pada tingkat dasar dan menengah melalui pesantren. Di Malaysia dan Thailand Selatan sekolah-sekolah ini dikenal sebagai “pondok”, di Indonesia sendiri lebih dikenal sebagai pesantren.

Pendidikan Islam di Malaysia

Islam merupakan agama resmi Negara Malaysia. Hampir 50% dari 13 juta penduduknya adalah Muslim dan sebagian besar diantaranya adalah orang melayu yang tinggal di Semenanjung Malaysia. Adapun sisanya terdiri dari kelompok-kelompok etnik minoritas diantaranya Cina yang terdiri sekitar 30% dari penduduk Malaysia dan lainnya India dan Arab. Masyarakat Muslim di Malaysia sebagian besar berlatar belakang pedesaan, mereka bekerja sebagai petani. Dalam penerapan kurikulum pendidikan Islam di Malaysia tidak berbeda jauh dengan pendidikan Islam di Indonesia, yaitu kurikulum yang mengandung dua inti sebagai kerangka dasar operasional pengembangan.

Pertama, tauhid sebagai unsur pokok tidak dapat dirubah. Kedua, perintah membaca ayat-ayat Allah yang meliputi tiga macam ayat, yaitu : 1) ayat Allah yang berdasarkan wahyu, 2) ayat Allah yang ada pada diri manusia, 3) ayat Allah yang terdapat di alam semesta atau di luar dari manusia. Para ahli pendidikan Islam dalam hal ini memberikan interpretasi-interpretasi tersendiri mengenai prinsip umum yang menjadi dasar kurikulum pendidikan Islam yaitu :

  • Adanya pertautan yang sempurna dengan agama, termasuk ajaran-ajaran dan nilai-nilainya.
  • Prinsip menyeluruh (universal) pada tujuan-tujuan dan kandungan-kandungan kurikulum.
  • Keseimbangan yang relative antara tujuan dan kandungan-kandungan kurikulum .
  • Perkaitan dengan bakat, minat, kemampuan-kemampuan dan kebutuhan pelajar dan juga dengan alam sekitar, fisik dan sosial tempat pelajar itu hidup berinteraksi
  • Pemeliharaan atas perbedaan-perbedaan individu diantara pelajar dalam bakat-bakat, minat, kemampuan, kebutuhan dan perbedaan lingkungan masyarakat.
  • Penyesuaian dengan perkembangan dan perubahan yang berlaku dalam kehidupan.
  • Pertautan antara mata pelajaran, pengalaman dan aktifitas yang terkandung dalam kurikulum, dan pertautan antara kandungan kurikulum dengan kebutuhan murid dan kebutuhan masyarakat tempat murid itu tinggal.

Kebijakan terkait dengan upaya meghasilkan manusia yang pofesional. Muslim yang berkualias diberbagai bidang kehidupan dengan cara pemerintah Malaysia mendirikan Universitas Islam berskala Internasional ( IIUM ) dengan dibiayai pemerintah dan bantuan dari Arab Saudi. Pemerintah menyediakan sejumlah infrastruktur untuk membantu umat Islam, realisasi yang paling umum adalah membangun masjid. Selain itu juga infrastruktur bidang ekonomi, dakwah dan syi’ar Islam, pendidikan dan aspek-aspek lainnya sebagai kebijakan pro-Islamnya pemerintah dan menunjukkan keseriusan dalam merespon penegasan kembali Islam. Pada 1975, Kementerian Pendidikan mengeluarkan dana senilai MS. 22 juta untuk memperbaiki pelaksanaan pelatihan guru-guru Islam. Tahun berikutnya pemerintah mengambil alih 10 sekolah terbaik diperbaiki manajemennya, meningkatkan kinerja para guru dan pegawai untuk dijadikan sekolah model.

Pendidikan Islam di Singapura

Masyarakat Muslim Singapura tergolong minoritas,sehingga masjid yang memberikan banyak sumbangan untuk memenuhi pembelajaran Islam bagi ummat. Beberapa masjid di Singapura dikenal sebagai pusat pendidikan Islam seperti pengajian Al-Qur’an dan Hadits, pemahaman agama dan peradaban Islam, tamadun Islam, pembelajaran bahasa Arab, diskusi pemikiran Islam dan pengajian fiqh. Masjid di Singapura tidak hanya musholah untuk sholat, tetapi dilengkapi juga dengan ruang maslahah untuk kepentingan ummat, bilik persidangan, dewan serba guna atau oditorium, bilik-bilik darjah untuk madrasah, kelas-kelas dan bengkel, bangunan aktifitas untuk program pembangunan sosial dan lain-lain.  Melalui MUIS yaitu suatu badan yang bertanggung jawab dalam pelantikan anggota Lembaga Pentadbir Masjid dan Pengurusan Masjid. Salah satu ciri jati diri Muslim Singapura untuk membangun masyarakat Islam cemerlang dengan berpegang teguh pada prinsip Islam serta menyesuaikan diri dengan perkembangan jaman.

 Pendidikan Islam di Filipina

            Filipina merupakan negara yang memiliki penduduk dengan mayoritas penduduk beragama Katholik namun demikian tidak menutup kemungkinan terdapat penduduk muslim didalamnya. Sebagaimana diketahui bahwa peduduk muslim di Filipina berjumlah 5% dari total penduduknya, mereka mayoritas tinggal di Fillipina Selatan. Filipina mambangun pendidikan formal pada tingkat dasar dan menengah, disebut dengan maktab dan madrasah. Pendidikan maktab lebih dikhususkan pada pendidikan anak-anak usia 6-10 tahun. Para orang tua membawa anak-anak mereka ke rumah seorang Muslim yang dituakan dan memiliki reputasi dalam bidang bacaan Al-Qur’an.  Di maktab ini setiap murid menamatkan bacaan Al-Qur’an sejumlah tiga puluh juz. Fokus utama program pendidikan di maktab adalah membaca Al-Qur’an dan menghafal al-Qur’an.

Dua orang pendakwah dari Universitas Al-Azhar Cairo Mesir tiba di Filipina Selatan pada 1950, dan membuka Madrasah “Al-Kuliyat Al-Istihadiyah” di Malubung, Lanao de sur. Salah satu pendakwah itu Toha Omar pindah ke Jalo, Sulu menjadi kepala madrasah Islamiyah Sulu. Masuknya madrasah dalam sistem pendidikan di Filipina, maka pemerintah melaksanakan kegiatan: memperbaiki staf dan fasilitas lembaga madrasah, mengembangkan dan memperkuat program Islamic Studies diberbagai lembaga pendidikan tinggi di Mindanao, memperkuat program pengajaran dan pembelajaran bahasa Arab.  Di beberapa madrasah bahasa Arab adalah pelajaran wajib bagi pelajar Muslim, dan mengajarkan mata pelajaran matematika, Ilmu Sosial, Sains, bahasa Inggris, serta bahasa Filipina.

Pendidikan Islam di Brunei Darussalam

Brunei Darussalam dikenal menganut ideologi Islam Melayu atau Melayu Islam Beraja (MIB). Dalam mencetak SDM yang berkualitas, Brunei membangun lembaga pendidikan, seperti Universitas Brunei Darussalam (UBD) brdiri tahun 1985, pada 1991 telah melahirkan 500 sarjana. Di tahun 1991 juga sebuah Memorandum of Understanding (MoU) ditandatangani dengan UTM untuk memperkuat kerjasama dalam bidang pendidikan dan pelatihan.

Pendidikan Islam di Thailand

Proses Islamisasi di Patani atau Thailand Selatan tidak terlepas dari peran pendidikan, tahap awal melalui pendidikan informal dari para mubaligh dengan rakyat setempat, selanjutnya non formal dan pendidikan formal. Banyak pelajar yang datang khususnya para pelajar dari luar Patani mereka berpengaruh bagi pertumbuhan bahasa Melayu, pengaruhnya sampai Burma dan Kamboja. Di pondok materi pembelajaran diutamakan berdasarkan pada pembacaan dan pemahaman kitab-kitab klasik, dalam bahasa Arab maupun tulisan Jawi. Kitab-kitab yang dipelajari di pondok adalah: Nahwu dan Sharaf, Fiqh, Tafsir, hadits, Balaqhah. Institusi Madrasah dapat dibagi tiga tingkatan: Ibtidaiyah, Mutawassithah, Tsanawiyyah.

                  Model madrasah yang dijalankan di Thailand : Ma’had Attarbiyyah, buku-buku umum yang diambil dari buku-buku yang diterapkan pemerintah sedangkan buku agama dibuat sediri oleh ma’had; Madrasah Ar-Rahmaniyyah Fatani, tingkat pendidikan yang dilaksanakan adalah taman kanak-kanak (2thn), Ibtidaiyah (4thn), Mutawasithah (3thn), Tsanawiyah (3thn); Pendidikan Tinggi Islam, College of Islamic Studies Prince of Songkla University.

Pendidikan Islam di Indonesia

Menurut (A.Barizi, 2004) Pesantren sebagai lembaga pendidikan Islam pertama yang mendukung kelangsungan sistem pendidikan nasional, selama ini tidak dapat diragukan lagi kontribusinya dalam rangka mencerdaskan kehidupan bangsa sekaligus mencetak kader intelektual yang siap untuk mengapresiasikan potensi keilmuannya di masyrakat Membahasa tentang pendidikan Islam, Indonesia merupakan negara dengan penduduk muslim terbanyak terutama di kawasan Asia Tenggara. Beberapa ahli mengatakan bahwa sejarah pendidikan Islam sama tuanya dengan masuknya agama tersebut ke Indonesia.

 (Yunus, 1985) mengatakan dari sinilah mulai timbul pendidikan Islam dimana awalnya mereka belajar di rumah-rumah, langgar atau surau masjid kemudian menjadi pondok pesantren. Setelah itu, sistem madrasah muncul sebagai mana yang kita kenal seperti sekarang ini. Sejak dua dasawarsa terakhir perkembangan pendidikan Islam di Indonesia menunjukkan kemajuan yang belum pernah terbayangkan sebelumnya. (Bruinesen, 2004) menjelaskan bahwa kuantitas dan kualitas pedidikan Islam tumbuh seiring dengan perbaikan kehidupan ekonomi dan kondisi politik umat Islam Indonesia yang semakin kondusif. Signifikansi pendidikan Islam bagi masa depan Islam Indonesia terletak pada perannya sebagai garda terdepan penjaga moral bangsa dan merupakan jembatan mobilitas anak-anak muslim dari berbagai strata sosial di Indonesia, yang pada saatnya mengantarkan mereka ke kehidupan modern.

Pesantren merupakan lembaga pendidikan tertua di Indonesia. Dalam perkembangan pesantren mengalami dinamika sesuai dengan kondisi bangsa Indonesia pada waktu itu. Sebelum maraknya globalisasi, pesantren masih bersifat tradisional. Sebagai lembaga pendidikan agama tertua di Indonesia, pesantren menjadi pusat pengembangan dan penyebaran agama islam yang ada di Indonesia. Pesantern telah ada ketika zaman penjajahan, pesantren menjadi benteng bagi umat Islam ketika masa itu. Namun, ketika Inonesia merdeka, pesantren mengalami perubahan yang sangat baik yaitu dulunya bersifat tradisional, lambat laun menjadi pesantren yang bersifat modern. Selain itu, pesantren juga mengalami perubahan dari segi materi dan penidikannya. (Aini, 2009)

Meskipun pada saat ini, pesantren bersifat modern, namun mereka tidak meninggalkan ciri khas dari pesantren, seperti melakukan shalat berjamaah, membaca dan menghafal al-Quran, karena pada dasarnya pesantren adalah untuk mewujudkan manusia dan masyarakat dalam muslim Indonesia yang beriman dan bertaqwa kepada Allah swt. Selain itu, tujuan dari pesantren adalah utnuk menciptakan ulama-ulama yang mampu menghadapi permasalahan dunia khususnya di Indonesia yang menyimpang dari ajaran Islam. Pesantren mengedepankan kualitas keislaman, keimanan, dan akhlak bagi santrui-santrinya agara kelak ketika mereka keluar dari pesantren mereka mampu menjadi seseorang yang mengerti agama serta dapat memperbaiki penyimpangan yang terjadi di Indonesia.

Kata pesantren mengandung pengertian asrama atau tempat murid-murid belajar mengaji dan bisa juga disebut sebagai pondok, sering juga masyarakat menyebutnya dengan pondok pesantren. Kata pondok berasal dari kata funduk (Arab) yang berarti ruang tidur atau wisma sederhana,sedangkan kata pesantren berasal dari kata santri yang berimbuhan kata pe- dan akhiran -an   yang berarti tempat para santri. Dengan begitu, pondok pesantren ialah tempat tinggal para santri yang ingin belajar dan menginap di pondok tersebut. (Aini, 2009)

Pondok pesantren merupakan pendidikan Islam yang khas di Indonesia. Dalam sejarah Indonesia, dapat ditelusuri keberadaannya sampai pada abad ke 13 M sebagai lembaga pendidikan yang berkembang di pedesaan dan di daerah terpencil, pondok pesantren menjadi pusat dakwah Islam di Pulau Jawa dilakukan oleh para wali yang dikenal dengan Walisongo. Peranan Walisongo semakin diperkuat dengan keterlibatan penguasa kerajaan Islam, seperti Sultan Agung di Kerajaan Mataram Islam. (Darmadji, 2011)

Sejalan dengan berkembangnya pesantren, maka pesantren dapat di klasifikasikan menjadi 3 macam yaitu :

  • Pesantren tradisional (Salaf)

Pesantren yang masih mempertahankan bentuk aslinya dengan mengajarkan kitab yang ditulis oleh ulama abad ke 15 M dengan menggunakan bahasa Arab. Sistem pengajarannya adalah dengan sistem diskusi, dimana para santri memahami isi kitab tanpa mempertanyakan kebenaran dari kitab tersebut, mereka meyakini bahwa apa yang diajarkan oleh kayi mereka pasti benar, tidak mungkin kyai mengajarkan sesuatu yang salah terhadap santrinya.  Kurikulum yang terdapat di pesantren tradisional sepenuhnya tergantung kepada kyai pengasuh pondok. Contoh dari pesantren tradisional adalah Pesantren Lirboyo dan Pesantren Ploso di Kediri, Pesantren Tremas di Pacitan, Pesantren Maslahul Huda di Pati, Pesantren An-nur di Sewon Bantul, Pesantren Mukhtajul Mukhtaj di Mojo tengah Wonosobo.

  • Pesantren Modern (Khalaf)

Pondok pesantren yang berusaha untuk mengintegrasikan sistem klasikal dan sekolah kedalam pondok pesantren. Pengajian kitab-kitab bukan menjadi prioritas, hanya sebagai pelengkap, namun pengajian kitab tersebut digantikan dengan mata pelajaran. Pondok pesantren modern memasukkan pengetahuan umum kedalam kurikulum. Namun, pengetahuan umum yang mereka terima sesalu dikaitkan dengan ajaran agama. Pengetahuan umum yang ada di pondok pesantren modern hanya ilmu yang terbilang wajib untuk diketahui oleh masyarakat atau oleh santri mereka. Seperti halnya pelajaran matematika, pelajaran ini tergolong umum, namun tetap ada di kurikulum pondok pesantren modern. Tujuan pondok modern adalah untuk melahirkan ulama-ulama yang pintar dalam agama dan pengetahuan umum. Contoh dari pesantren modern adalah Pondok Darussalam Gontor yang ada di Ponorogo, Pondok Pesantren Modern Islam Assalam di Solo , Pondok Modern Selamat di Kendal.

  • Pondok Pesantren Komprehensif

Pondok pesantren yang menggabungkan sistem pendidikan dan pengajaran antara yang tradisional dan modern. Dimana sistem mereka adalah tetap mengutamakan pembelajaran kitab namun tetap memasukkan pengetahuan umum kedalam kurikulm. Pesantren Komprehensif menerapkan pendidikan dan pengajaran kitab kuning dengan metode sorogan, bandongan dan wetonan. Sistem persekolahan tetap dikembangkan dan para santri belajar untuk bermasyarakat. Contoh dari pesantren komprehensif adalah Pondok Pesantren Amanatul Ummah di Pacet.

            Ketiga tipe pondok pesantren di atas memberikan gambaran bahwa pondok pesantren  merupakan lembaga pendidikan sekolah, luar sekolah dan masyarakat. Pendidikan sekolah seperti adanya sistem kelas yang diterapkan di pondok pesantren. Pendidikan luar sekolah seperti ketika para santri belajar mendalami bahasa. Pendidikan kemasyarakatan yang ada di pesantren adalah bagaimana para santri hidup dengan santri lainnya yang berbeda daerah dan sifat satu sama lain, mereka belajar toleransi dan belajar mandiri. (Zahidi, 2017)

Kiprah Pondok Modern Darrussalam Gontor di Asia Tenggara

            Pada jaman modern seperti saat ini, pesantren masih mendapatkan kepercayaan bagi masyarakat sebagai lembaga pendidikan agama. Masih banyak masyarakat yang menyekolahkan anak mereka di pesantren. Jika kita melihat pada jaman sekarang ini, terdapat pondok pesantren yang terbilang sangat familiar dikalangan masyarakat nasional dan internasional salah satunya adalah Pondok Modern Darussalam Gontor (PMDG). PMDG menjadi pesantren unggulan di kawasan Asia Tenggara, seperti banyak santri yang berasal dari Malaysia dan Thailand. Malaysia merupakan negara yang agama Islam menjadi agama resmi dan terdapat lembaga-lembaga pendidikan agama di sana, namun mereka lebih memilih untuk menimba ilmu di PMDG. Alumni dari PMDG banyak menjadi ulama maupun tokoh besar di Indonesia.

            PMDG merupakan pondok pesantren yang melakukan pembaharuan dengan memasukkan mata pelajaran umum di dalam kurikulumnya. Selain itu, para alumni-alumni PMDG banyak mendirikan pesantren-pesantren di daerah asal mereka, hal tersebut mencerminkan keberhasilnya PMDG dalam mendidik santri-santrinya. Meskipun PMDG merupakan pondok pesantren modern, namun pondok ini tetap menganut sistem tradisional ayai, bisa dibilang tetap melakukan kesederhanaan dalam kesehariannya. Hal itu terlihat seperti tidak diperbolehkannya santri membawa handphone, televisi, memasak menggunakan kayu bakar, dan mencuci tanpa mesin. PMDG dianggap modern karena sistem pembelajarannya, dimana terdapat ilmu pengetahuan, santri dapat menyalurkan hobinya seperti basket, kerajinan tangan, dan lainnya. Sehinnga, PMDG memadukan sifat tradisional untuk kehidupan seharai-hari dan sifat modern untuk pembelajaran. (Alhamuddin, Sya’ban 1428 )

            Hingga saat ini Pesantren Gontor telah berusia 91 tahun, usianya yang cukup lama, peran Pesantren Gontor dalam pembangunan aspek pendidikan sangat ketara sekali. Sumbangan tersebut dapat diperhatikan secara internal yaitu aktivitas pendidikan di pesantren sendiri maupun eksternal yaitu melalui pendirian cabang Pesantren Gontor serta pendirian sekolah-sekolah agama di sekitar Pesantren Gontor.  Jumlah santri Gontor pusat Ponorogo pada tahun 2014 mencapai 4,043 santri yang berasal dari 37 wiyalah termasuk dari luar negara Indonesia. Hal ini membuktikan syiar dan peran Pesantren Gontor terhadap pengurangan buta huruf telah lama dirasakan oleh masyarakat nasional maupun internasional. (Prasaetyio, 2014)

            Gontor tidak hanya melakukan pembangunan secara internal dan eksternal juga mendapat perhatian yang sama, seperti didirikannya satu universitas dan 18 pesantren cabang Pesantren Gontor dari Negeri Aceh hingga Sulawesi Tenggara dengan jumlah santri keseluruhan kurang lebih 18,731 santri. Disamping itu dengan adanya pendirian pesantren-pesantren para alumni dari Gontor kurang lebih terdapat 200 pesantren dengan kurikulum yang sama. Ikatan Keluarga Pondok Modern Gontor (IKPM) ada  di seluruh kota dalam negeri maupun yang dari luar negeri juga memberikan kontribusi dalam pembangunan pendidikan.  (Dihyatun Masqon et al., 2013)

            Jika melihat pada sejarah pendirian pesantren yang begitu lama, pesantren sebagai lembaga pengembangan agama yang strategis, kemudian pesantren sebagai media dakwa dan tempat perjuangan yang mendidik manusia memiliki wawasan luas baik ilmu dunia dan ilmu akhirat. Pesantren juga merupakan institusi yang mengabdi bagi masyarakat dengan komitmennya amar ma’ruf nahi munkar dalam berbagai bentuk. Selanjutnya, pesantren telah memerankan berbagai aspek pembangunan kepada masyarakat sekitar dan masyarakat Indonesia pada umumnya.

References

A.Barizi, I. T. (2004). Membuka Jendela Pendidikan, Mengurai Akar Tradis. Jakarta: PT. Raja Grafindo Persada.

Aini, N. (2009). PESANTREN, ORGANISASI MODERN ISLAM DI MASA PENJAJAHAN . Jurnal Darussalam , 47.

Alhamuddin. (Sya’ban 1428 ). PENDIDIKAN ISLAM MODERN ALA TRIMURTI PONDOK MODERN DARUSSALAM GONTOR. At-Ta’dib , 203-230.

Azra, A. (2015). slam di Asia Tenggara, Pengantar Pemikiran dalam Azyumardi Azra (Ed.), Persfektif Islam di Asia Tenggara. Perbandingan Pendidikan Islam di Asia TenggaraJurnal Pendidikan Islam, VI – VIII.

Bruinesen, M. v. (2004). Traditionalist and Islamist pesantren in cotemporary Indonesia . The Madrasa in Asia, transnational linkages and alleged or real political activities. Leiden, Netherlands: ISIM.

Darmadji, A. (2011). PONDOK PESANTREN DAN DERADIKALISASI ISLAM DI INDONESIA . 238.

Dihyatun Masqon et al. (2013). Wardun Warta dunia Pondok Modern Darussalam Gontor . Ponorogo .

Prasaetyio, H. (2014). Temubual Penulis.

Rabasa, A. (n.d.). Islamic Education in Southeast Asia.

Yunus, M. (1985). Sejarah Pendidikan Islam di Indonesia. Jakarta: Hida Karya Agung.

Zahidi, S. (2017). PONDOK PESANTREN SEBAGAI PENDIDIKAN ALTERNATIF. 54.

 

Tulisan ini dibuat untuk memenuhi tugas kelompok  Kajian Pendidikan Islam di Asia Tenggara, 
Dosen Pengampu: Krismono S.H.I., M.S.I.
Oleh: Wellaza Fajarizka K, Akhirnia Rahardara, Tri Inov Haripa
Program studi: Hubungan Internasional, Universitas Islam Indonesia

Apabila dalam tulisan ini terdapat banyak kekurangan mohon maklum, silahkan untuk memberikan komentar, kritik dan saran agar kami dapat memperbaikinya menjadi lebih baik lagi. Terima kasih! 

Di Depan Pintu

Pagi menemukan senja bukan disengaja
telah disampaikan nubuatan kala itu 
jauh ku pikir melintasi triliunan cahaya
namun hangatmu dalam pelukan waktu 

Siang menemukan malam bukan tanpa rencana
terangnya menggelapkan dan gelapnya menyilaukan 
seakan di depan mata dirimu berada
nyatanya hanya doa yang mampu menyampaikan

Ombak mencintai laut bukan tanpa alasan 
gelombang airnya dirindukan pantai
layaknya hadirmu yang kubutuhkan
ketika bangun dari mimpi

 

 

Armada Laut Pertama Umat Islam

Suatu hari Rasulullah shallallahu’alaihi wa sallam beristirahat siang di rumah Ummu Haram binti Malhan. Tiba-tiba beliau terjaga sambil tertawa. Tak ayal lagi, sikap beliau ini mengejutkan Ummu Haram, sehingga beliau bertanya: “Wahai Rasulullah, apa yang menyebabkan engkau tertawa?”. Rasulullah shallallahu’alaihi wa sallam menjawab:

نَاسٌ مِنْ أُمَّتِي عُرِضُوا عَلَيَّ غُزَاةً فِي سَبِيلِ اللَّهِ، يَرْكَبُونَ ثَبَجَ هَذَا البَحْرِ مُلُوكًا عَلَى الأَسِرَّةِ

Aku diperlihatkan sekelompok ummatku yang sedang berjuang di jalan Allah dengan menaiki ombak laut ( dengan perahu). Mereka begitu gagah perkasa bak para raja yang sedang duduk-duduk di atas singgasananya“.

Mendengar penjelasan ini Ummu Haram tertarik dan segera berkata: “Ya Rasulullah, doakan aku agar Allah menjadikanku bagian dari pasukan tersebut”. Rasulullah mengabulkan permohonan Ummu Haram tersebut, dan selanjutnya beliau meneruskan istirahat siangnya.

Tidak selang berapa lama, kembali lagi beliau terjaga sambil tertawa. Sikap beliau ini kembali menarik perhatian Ummu Haram, sehingga beliau bertanya: Wahai Rasulullah, apa yang menyebabkan engkau tertawa? Rasulullah shallallahu’alaihi wa sallam menjawab:

نَاسٌ مِنْ أُمَّتِي عُرِضُوا عَلَيَّ غُزَاةً فِي سَبِيلِ اللَّهِ، يَرْكَبُونَ ثَبَجَ هَذَا البَحْرِ مُلُوكًا عَلَى الأَسِرَّةِ

Aku diperlihatkan sekelompok ummatku yang sedang berjuang di jalan Allah dengan menaiki ombak laut ( dengan perahu). Mereka begitu gagah perkasa bak para raja yang sedang duduk-duduk di atas singgasananya

Kembali lagi Ummu Haram memohon agar beliau berdoa agar ia dijadikan bagian dari pasukan tersebut. Kembali lagi Rasulullah shallallahu’alaihi wa sallam mengabulkan permohonannya, dan beliau bersabda:          أَنْتِ مِنَ الأَوَّلِينَ

Engkau termasuk orang pertama yang ikut serta pada pasukan tersebut

Kisah ini diriwayatkan oleh Al-Bukhari (2894) dan Muslim (1912) dalam Shahihain [1].

Apa yang dikabarkan oleh Rasulullah shallallahu’alaihi wa sallam ini benar-benar terjadi. Pada zaman Khalifah Utsman bin Affan, sahabat Mu’awiyyah membentuk satu kesatuan pasukan laut dan misi pertama mereka adalah menyerang negeri Qubrus (Siprus). Berikut latar belakang dibentuknya armada laut umat muslim.

Pada masa Khalifah Utsman, pasukan Muslimin berhasil mengusir Romawi dari Afrika, kemudian kekuasaan diserahkan kepada orang Afrika sendiri sesudah Abdullah bin Sa’ad mengadakan persetujuan atas dasar jizyah. Orang Afrika banyak yang memeluk Islam, dan mereka tetap setia pada perjanjian tersebut sepanjang masa Utsman dan pada masa Ali. Dengan dibebaskannya Afrika yang mencakup semua negeri di pantai Laut Tengah, dari Antakiah di utara Syam, dan di ujung timur Laut itu sampai ke ujung barat Afrika bagian utara. Kedaulatan Islam sudah semakin luas.

Mu’awiyah di Syam memiliki keyakinan bahwa pantai-pantai yang terbentang ribuan mil itu tak mungkin aman dari serbuan mendadak pihak musuh dari arah laut, kecuali jika Arab mempunyai armada laut yang dapat menghadapi armada laut Romawi. Demikian pendapat Mu’awiyah sejak ia memerintah Syam mengetahui gelagat Romawi yang akan menyerang Antakiah dari arah laut. Itu sebabnya dulu ia pernah mengirim surat ke Umar, menerangkan pulau Siprus yang begitu dekat ke Hims. Namun, Umar tidak mengizinkan membentuk armada laut karena orang Arab tidak terbiasa di laut. Sesudah Usman naik dan Romawi menyerang Mesir dari laut, armada laut Romawi sudah tiba di sepanjang pantai Afrika Utara. Mu’awiyyah mengulangi lagi permintaannya kepada Usman untuk menyerang Siprus dari laut.

Awalnya Utsman khawatir jika seandainya mengizinkan beliau menyalahi kebijakan Umar dan merusak janjinya waktu dibaiat. Setelah mempertimbangkan permintaan Mu’awiyyah, beliau berpikir bukan ide yang buruk. Dengan demikian Utsman menentukan serangan melalui laut, siapa saja dapat bergabung menjadi armada laut. Tak lama sesudah menerima surat Utsman, Mu’awiyyah segera menyiapkan kapal-kapalnya untuk menghadapi perang itu. Setelah Abdullah bin Sa’ad bin Abi Sarh mengetahui persetujuan Utsman dengan Mu’awiyyah ia menyiapkan beberapa kapal di pelabuhan Iskandariah dan membawa mereka yang secara sukarela mau berperang di laut. Pada saat itu kaum Muslimin memiliki armada yang tak kalah perkasa dari armada Romawi.

Saran Mu’awiyyah untuk membangun armada laut umat muslim dinilai tepat, menyerang Siprus dan membuat pangkalan di laut untuk melindungi kedaulatan Islam yang masih muda pada saat itu. Di bawah Khilafah Utsman bin Affan kedaulatan Islam bertambah luas. Melihat armada Islam yang tangguh mematahkan pasukan Romawi untuk menguasi kembali Mesir. Mu’awiyyah bin Abu Sufyan mengarungi lautan dengan membawa istrinya Fakhitah binti Qarazah dan beberapa sahabat yang tinggal di Syam. Kapal yang ditumpangi Mu’awiyah ini berada di garis depan diikuti oleh kapal-kapal lain dibelankangnya yang terdiri dari sukarelawan muslim.

Setelah sampai di Siprus dan mendarat di tepi pantai, mereka tidak menemui seorang penguasapun atau penduduk yang mencegat mereka. Kedua belah pihak antara kaum muslim yang dipimpin oleh Mu’awiyah dengan penduduk Siprus sepakat memilih jalan damai dengan berunding. Pihak Siprus menginginkan persetujuan yang telah mereka capai dengan pihak muslim jangan sampai menimbulkan pertentangan dengan pihak Romawi. Oleh karena itu, mereka mengadakan persetujuan damai dengan pihak muslim atas dasar jizyah 7200 dinar yang dibayarkan setiap tahun, dengan syarat jumlah yang sama juga harus dibayarkan kepada pihak Romawi.

Atas dasar persetujuan ganda dengan pihak Romawi dan pihak Muslim ini, pihak muslim tidak akan melindungi dan tidak akan berperang untuk melindungi mereka jika itu terjadi kepada pihak Siprus. Setelah kaum Muslimin menguasai Siprus serta telah memiliki armada yang dapat mempertahankan pantai-pantai Syam dan Afrika, pihak Romawi berkeyakinan bahwa mereka tidak akan bisa menguasai Mesir maupun Afrika kembali sebelum menghancurkan aramada laut umat Muslim yang tangguh[2].

[1] Muhammad Arifin Baderi. 2014. Angkatan Laut Pertama Ummat Islam. Sumber: https://muslim.or.id/19959-angkatan-laut-pertama-ummat-islam.html

[2] Haekal, Muhammad Husain. 2002. Usman bin Affan. Jakarta : Litera Nusantara

Unmanned Aircraft Systems Menurut Prinsip Proporsionalitas dalam Konflik Bersenjata

RINGKASAN TULISAN DALAM BUKU

PENERAPAN PRINSIP PROPORSIONALITAS TERHADAP PENGGUNAAN PESAWAT TANPA AWAK DALAM KONFLIK BERSENJATA[1]

Oleh:

Tri Inov Haripa[2]

 

RINGKASAN

Amerika Serikat menggunakan pesawat tanpa awak untuk ‘memperdayai’ target teroris. MQ-1 Predator dan MQ-9 Reaper yang dimiliki Angkatan Udara Amerika Serikat dikenal dilengkapi dengan senjata. Kedua pesawat ini pernah digunakan untuk menumpas terorisme di Pakistan yang menyebabkan banyak korban berjatuhan. Selain di Pakistan, penggunaan pesawat tersebut juga pernah dilakukan di Afganistan, Yaman, dan Somalia yang mayoritas korban adalah warga sipil. Nihilnya aturan spesifik terkait dengan pembuatan dan prosedur penggunaan pesawat tanpa awak menjadi penyebab tragedi kemanusiaan tersebut.

Prinsip proporsionalitas wajib diterapkan dalam penggunaan pesawat tanpa awak untuk menghindari korban dari pihak sipil. Proporsionalitas memiliki kesamaan makna dengan ‘keseimbangan’, sehingga dalam prinsip ini harus terjadi keseimbangan antara prinsip kepentingan militer, prinsip kemanusiaan dan prinsip kesatriaan. Prinsip ini dapat pula dijelaskan bahwa dalam rangka mencapai keberhasilan perang negara tidak diperkenankan menjadikan penduduk sipil sebagai target. Hukum humaniter membolehkan bilamana dalam suatu konflik bersenjata dan efek samping dari pertikaian bersenjata ini menyebabkan jatuhnya korban sipil secara tidak disengaja. Timbulnya korban dari penduduk sipil diperbolehkan dalam hukum humaniter selama hal ini merupakan collateral damage (kerugian yang timbul bersamaan) dan tidak dilakukan atas kesengajaan (untentional conduct).

Prinsip proporsionalitas secara umum sudah diterima sebagai salah satu hukum kebiasaan internasional (customary international law). Sehingga setiap negara terikat secara penuh terhadap penerapan prinsip proporsionalitas dalam konflik bersenjata. Kententuan dalam Statuta Roma 1998 memberikan persyaratan dapat diterapkan prinsip proporsionalitas yaitu : (1) harus terdapat upaya antisipasi untuk mencegah timbulnya korban dari penduduk sipil; (2) harus terdapat upaya antisipasi untuk mencapai kepentingan militer; (3) dimaan upaya tersebut secara jelas dilakukan secara berlebihan dalam hubungannya untuk melakukan upaya yang kedua tersebut. Terdapat beberapa ukuran atau batasan dalam menggunakan pesawat tanpa awak secara proporsionalitas antara lain :

  1. Penduduk sipil harus mendapatkan prioritas utama dalam perlindungan.
  2. Penggunaannya harus dilakukan dengan kendali langsung manusia.
  3. Penggunaannya tidak boleh bertentangan hukum humaniter.
  4. Penggunaan pesawat tanpa awak dalam pertikaian bersenjata tidak boleh melanggar hukum humaniter.

Hukum humaniter (baik Konvensi Jenewa maupun Konvensi Den Haag) belum mengatur secara khusus terkait penggunaan pesawat tanpa awak dalam konflik bersenjata. Akan tetapi, keberadaan pesawat tanpa awak untuk mendukung kekuatan militer suatu negara diperbolehkan sebagaimana dijamin dalam Pasal 36 Protokol Tambahan I Tahun 1977 Konvensi Jenewa. Prinsip proporsionalitas dapat dijadikan sebagai pedoman dalam penggunaan pesawat tanpa awak agar penggunaannya sejalan dengan spirit hukum humaniter. Pesawat tanpa awak diperkenankan untuk digunakan sebagai armada kekutan bersenjata selama penggunaanya dilakukan secara proporsional.

 

DAFTAR PUSTAKA

Heriyanto, Dodik S.N., “Penerapan Prinsip Proporsionalitas terhadap Penggunaan Pesawat Tanpa Awak dalam Konflik Bersenjata”, dalam Denny Ramdhani, et. al, Konteks dan Perspektif Politik Terkait Hukum Humaniter Internasional Kontemporer, RajaGrafindo Persada, Jakarta, 2015.

[1] Heriyanto, Dodik S.N., “Penerapan Prinsip Proporsionalitas terhadap Penggunaan Pesawat Tanpa Awak dalam Konflik Bersenjata”, dalam Denny Ramdhani, et. al, Konteks dan Perspektif Politik Terkait Hukum Humaniter Internasional Kontemporer, RajaGrafindo Persada, Jakarta, 2015, hlm.211-224.

[2] Penulis adalah Mahasiswa Program Studi Hubungan Internasional Universitas Islam Indonesia dengan Nomor Induk Mahasiswa: 15323071

Kepada Tuan-ku

Maafkan hamba Tuan,
lalai dalam menjalankan perintahmu
menunda kewajibanku
kufur nikmat banyak pintaku.
Sepantasnya hamba dihukum Tuan,
sejujurnya diri hina ini takut akan siksamu
namun tak pantas mendapat kasihmu.
Maafkan hamba Tuan,
jikalau diperkenankan terimalah sembah hamba sekali lagi,
sebagai tanda tunduk dan setia melayanimu.

Penghangat Kebekuan


tumpukan buku dan pelukanmu
dalam pertengahan november menggelayut sendu
meninggalkan jejak hujan di sepatu barumu
seolah melengkapi kalimat yang terlewat dalam epilog masalahku
kemudian menjadi penghangat kebekuan dalam sela jemariku